Kamis, September 17, 2009

Upacara Adat Mandi Belimau

Seorang laki-laki bersorban membacakan doa yang di depannya terdapat kendi yang berisi air. Sementara lima laki-laki dengan mengenakan kain hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu berdiri di belakangnya. Setelah itu, air yang di dalam kendi disiram kepada warga. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kaya akan tradisi dan ritual bernuansa keagamaan. Salah satunya adalah upacara adat Mandi Belimau di Dusun Limbung, Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang.
Upacara diawali dengan kegiatan Napak Tilas yang dimulai dari Gedung Juang Sungailiat menuju makam Depati Bahrin di Lubuk Bunter, Desa Kimak yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor untuk menyeberang sungai.

Ritual adat Mandi Belimau dimulai dari pengutaraan niat disertai doa yang dipimpin Haji Ilyasak keturunan kelima Depati Bahrin yang sekarang adalah pemuka adat Kecamatan Merawang. Dalam upacara ini Haji Ilyasak sebagai pemimpin mengenakan kain putih, sementara lima pemuka adat lainnya yang membantunya mengenakan kain berwarna hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu. Tidak disebutkan apa makna yang tersirat dari perbedaan lima warna kain yang dikenakan oleh yang membantu ritual itu dan yang mempimpin. Sedangkan pelaksanaan mandinya sendiri dilakukan di depan Sungai Limbung, yang dimulai dari membasahi telapak tangan dari yang kanan, lalu telapak kiri, kemudian kaki kanan dan kiri yang diteruskan membasahi ubun-ubun dan seluruh anggota tubuh dengan guyuran air yang dicampur dengan jeruk limau.

Bahkan ada di antara warga yang sengaja membawa pulang air yang digunakan untuk ritual Mandi Belimau, yang diyakini memiliki khasiat tertentu. Ritual adat itu pun diikuti Bupati Bangka H. Yusroni Yazid. Menurutnya, rangkaian kegiatan adat Mandi Belimau itu adalah simbol-simbol tradisi yang baik untuk perenungan dan pensucian diri baik lahir maupun batin.

“Selain itu dalam rangka menumbuh kembangkan nilai-nilai sejarah perjuangan para pendahulu kita yang ada di daerah Bangka seperti kepahlawanan Depati Bahrin, Depati Amir dan lainnya,” ujar Ketua DPD PPP Babel ini. Keinginan Pemerintah Daerah Bangka ini sejalan dengan apa yang diharapkan masyarakat Dusun Limbung, Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang agar ritual adat Mandi Belimau dapat dipertahankan dan dilestarikan.

Upacara adat masyarakat Dusun Limbung Desa Jada Bahrin dan Desa Kimak Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka yang sudah jadi turun temurun hingga sampai sekarang ini yang disebut dengan Mandi berlimau. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang biasanya dilaksanakan 1 (satu) minggu sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, Upacara adat Mandi Belimau dilaksanakan dipinggir Sungai Limbung. Menurut pemahaman mereka bahwa dengan acara mandi berlimau ini maka segala apa yang kita inginkan/kehendaki dan apa yang kita do'akan akan terkabul asalkan sesuai dengan tata acara yang telah ditentukan.

ASAL USUL MANDI ADAT MANDI BELIMAU
Terjadinya (Mubadi) Ilmu Tauhid dan hukum-hukumnya di wilayah Bangka Tengah bertempat di Penareh, sebuah perkampungan yang terletak di hulu Sungai Limbung, daerah ini pernah di tempati oleh mereka yang punya nama-nama besar seperti, AKEK JOK, AKEK POK, AKEK DAEK, DEPATI AMIR DAN DEPATI BAHREIN serta nama - nama besar lainnya.

TUJUAN
1. Mencari keinginan-keinginan :
- Keinginan Allah (Zikir)
- Keinginan Rhosul (Sholawat, Sunah)
- Keinginan Malaikat (Tahmid, Takbir, Tasbih)
- Keinginan Manuasia (Do'a terkabul)
2. Meningkatkan perbuatan Mandi Taubat serta Sembahyang Sunat Taubat.
3. Meningkatkan perbuatan Amal Ibadah Fardhu dan Sunat
4. Meningkatkan Ibadah Silatuh Rahim.

FAEDAH
Melepaskan diri dari pada Azab yang ditetapkan atas Kafir dan Sholeh Itikad.

MARTABAT
Ialah semulya-mulyanya ilmu karena Ia bergantung pada Zat Allah dan Rhosul. Pengambilannya pada Dalil Aqhli memandang asal yang menghantarkannya ialah Allah dan Rhosulnya dan adapun yang membuatnya dengan sifatnya (cara) seperti sekarang yang mengikutinya.

Kegiatan Mandi Belimau diawali dengan berziarah ke Makam Depati Bahrein yang terletak di wilayah Lubuk Bunter sekitar kurang lebih 8 km dari Desa Kimak. Dalam melakukan ziarah diisi dengan kegiatan membaca Surah Yasin serta memanjatkan do'a, dipandu oleh tokoh agama setempat.

Setelah selesai melakukan ziarah ke Makam Depati Bahrein, selanjutnya menuju ke Dermaga Lubuk Bunter kurang lebih 3 km dari lokasi makam. untuk menyeberangi Sungai Jada yang banyak di tumbuhi dengan pohon bakau, menggunakan perahu kayu untuk sampai ke Dusun Limbung tempat dilaksanakannya upacara adat Mandi Belimau.

MAKNA WARNA
Di sekitar tempat pelaksanaan upacara adat Mandi Belimau terdapat 5 (lima) macam kain berwarna yang bermakna :
1. BIRU yang berarti Pemberani - Isroil Istana Jantung Tulang Ali.
2. MERAH yang berarti Panglima - Isrofil Istana Jantung Daging Usman.
3. KUNING yang berarti Pengrajin - Mikail Istana Urat Umar.
4. HITAM yang berarti Sabar Penyimpan Rahasia, Bersatu Jihad - Jibroil Istana Lidah Darah Abu Bakar
5. PUTIH yang berarti Kesucian - Titis Nur Muhamad SAW Al Ulama Miswhatul Mursyid

AIR TAUBAT
Air yang digunakan untuk pelaksanaan upacara adat Mandi Taubat yaitu air yang di ambil dari sumur kampung yang telah dibacakan mantera dan dicampur dengan :
1. Jeruk nipis 7 buah, syarat kode kain merah tanda panglima menguasai ilmu sakti. (Akek Pok )
2. Pinang 7 butir, syarat kode kain putih tanda kesucian batin pendekar (Depati Bahrein)
3. Bonglai kering, 76 iris, syarat kode kain hitau tanda pemberani , pemberantas jin dan iblis (Akek Jok) ahli ilmu politik.
4. Kunyit 7 mata, syarat kode kain kuning rajin bekerja, orang yang rajin musuhnya iblis, orang malas kawannya iblis (Akek Sak)
5. Mata mukot 7 jumput, bawang merah 7 biji, kode kain kelabu orang suka penurut. (Akek Daek)
6. Arang usang, kode kain hitam tanda sabar men­yimpan rahasia tanda bersatu jihad fisabillillah (Akek Dung)

PELAKSANAAN
Dalam melaksanakan Mandi Belimau terlebih dahulu mengutarakan niat nantinya akan menyertai do'a yang di bacakan oleh tokoh adat sekaligus memulai melakukan pemandian.

Untuk pemandian ini dimulai dari membasahi telapak tangan dari yang kanan lalu kiri, selanjutnya kaki kanan lalu kiri, setelah itu diteruskan dengan membasahi umbun-umbun baru kemudian seluruh anggota badan hingga diperkirakan seluruh anggota badan terkena basahan air.

Pada akhir pelaksanaan upacara adat Mandi Belimau dilaksanakanlah suatu tradisi adat Sepintu Sedulang yang di sebut "Nganggung", yaitu membawa makanan secara bergotong-royong ke suatu tempat untuk di nikmati bersama-sama (dalam hal ini Mesjid Dusun Limbung).

Tidak ada komentar: